Sebelum jauh membaca, saya infokan kepada pembaca kalau tulisan di blog ini saya buat berdasarkan pengalaman dan hasil bacaan buku. Jika ada hal yang dirasa kurang pas dan menyimpang, mungkin bisa di infokan lewat kolom komentar di setiap akhir postingan agar nantinya bisa di perbaiki oleh penulis, SuksmaCSinema

Memahami Eksposur (Segitiga Fotografi)

Segitiga FotografiMemahami Eksposur (Segitiga Fotografi) – Sejak pertama kali kamera foto ditemukan hingga sekarang. Kamera tidak lebih dari sekedar kotak kedap cahaya dengan lensa atau lubang di satu sisi dan media perekam gambar (film atau sensor) di sisi lainnya.

Untuk menghasilkan gambar pada sebuah kamera, anda membutuhkan konsep fotografi yang diantaranya adalah

  1. Seberapa banyak cahaya yang masuk melewati lensa (Aperture).
  2. Lama cahaya mengenai media perekam gambar (Shutter Speed).
  3. Seberapa sensitifitas media perekam terhadap cahaya yang masuk (ISO atau ASA).

Interaksi dari ketiga elemen inilah yang dinamakan sebagai eksposur.

Terkadang, saat pertama kali membeli kamera atau saat pertama kali belajar fotografi. Kita akan berpatok pada pengaturan kamera yang serba otomatis. Namun untuk masuk ke dunia fotografi yang sebenarnya, kita harus berusaha mempelajari bagaimana menghasilkan sebuah eksposur yang tepat secara manual.

Memahami Konsep Eksposur

Mari umpamakan eksposur sebagai sebuah keran air dimana:

  1. Aperture adalah seberapa besar kita membuka keran air,
  2. Shutter Speed adalah waktu lamanya kita membuka keran air untuk memenuhi ember dan
  3. ISO atau ASA adalah kuatnya dorongan air dari sumbernya,
  4. Sedangkan air yang mengalir kita umpamakan sebagai cahaya.

Jika salah satu dari elemen diatas dirubah, maka otomatis anda harus merubah elemen lainnya. Misalnya anda merubah bukaan keran air, maka secara otomatis waktu yang dibutuhkan keran air memenuhi ember akan berubah juga. Lihat gambar dibawah ini:

Seperti inilah konsep dari segitiga fotografi untuk menghasilkan sebuah eksposur yang tepat. Ketika salah satu elemen dari panah biru digeser, anda akan perlu menggeser salah satu atau kedua elemen pada sisi lain yang panahnya berwarna merah. Begitu juga sebaliknya.

Contoh: Anda mengurangi intensitas ISO (panah merah) misalnya dari 500 ke 100. Otomatis anda harus memperLEBAR aperture (panah biru) dan juga memperLAMBAT shutter speed (panah biru) anda.

Ketika anda memperSEMPIT aperture (panah merah), maka otomatis anda harus memperLAMBAT shutter speed (panah biru) dan atau menambah ISO (panah biru) menjadi lebih lebih tinggi.

Menghasilkan Eksposur Manual

Cara paling tepat untuk belajar eksposur adalah dengan mencobanya. Begitu anda mencobanya, maka anda akan mengerti bagaimana cara kerjanya.

Silahkan anda atur kamera pada mode M (manual) lalu tempatkan objek benda atau seseorang berpose di depan kamera anda dengan jarak antara 60 – 250 centimeter.

Aturlah aperture kamera anda pada angka 5.6 (f/5.6) dan intip view finder anda. Sekarang atur shutter speed anda agar light meter kamera menunjukkan eksposur yang tepat dan jepret lah.

Selamat, anda telah berhasil membuat foto dengan eksposur manual.

Apakah anda masih mengalami kebingungan dalam memahami eksposur? Gunakan fasilitas komentar dibawah untuk bertanya apa yang belum anda pahami.

I Wayan Widharma

Filmmaker, Photographer dan Part-time Blogger di Bali. Menjadi fotografer tetap di Jengah Media Production dan Blogger di CSinema.com. Beberapa portofolio saya dapat dilihat di blog atau media sosial saya ini: Profil saya | Facebook | Instagram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *