Sebelum jauh membaca, saya infokan kepada pembaca kalau tulisan di blog ini saya buat berdasarkan pengalaman dan hasil bacaan buku. Jika ada hal yang dirasa kurang pas dan menyimpang, mungkin bisa di infokan lewat kolom komentar di setiap akhir postingan agar nantinya bisa di perbaiki oleh penulis, SuksmaCSinema

Tahapan Produksi Film: Development

Tahapan DevelopmentTahapan Produksi Film: Development – Tahap produksi “tradisional” sebuah konten audio visual (seperti film) sebenarnya ada 3 yaitu Pra Produksi, Produksi dan Pasca Produksi. Namun seiring dengan perkembangan industri film, 3 tahapan produksi itu dikembangkan lagi menjadi 5 poin tahapan produksi. Tahapan pertama dari 5 tahapan produksi itu adalah Development.

Departemen Penting Tahap Development

Dalam tahap ini tidak semua divisi produksi film yang bekerja. Hanya ada 3 divisi (atau 3 orang) yang biasa disebut triangle system meliputi Produser, Penulis Skenario dan Sutradara yang bekerja.

Produser sendiri akan bertugas meriset target pasar dan apa saja yang berhubungan dengan penjualan serta pencarian sponsor sebagai sumber pendanaan selama produksi.

Penulis Skenario bertugas dalam membuat cerita sesuai target pasar yang telah diriset oleh tim produser.

Sedangkan sutradara akan berperan menerjemahkan isi skenario menjadi sebuah film (dari teks ke visual) yang harus sesuai dengan visi dari produser sehingga sesuai dengan target pasar.

Ketiga divisi inilah yang akan menentukan apakah film bisa di produksi atau tidak dalam tahap development ini.

Pengembangan Cerita

Ide dapat datang dari mana saja, bisa dari produser, sutradara atau datang dari pihak ketiga (diluar triangle system) yang ingin idenya digarap.

Pada tahap ini akan dilakukan pengembangan cerita. Produser dibantu dengan penulis skenario akan membuat Logline dan Statement dari ide yang sudah dipilih.

Setelah didapat logline dan statement yang jelas dari ide tersebut, barulah dibuatkan sinopsis awal yang menjelaskan bagaimana alur dari cerita. Sinopsis inilah yang nantinya akan berkembang dan menjadi skenario film.

Namun, tidak mudah memang mengembangkan sinopsis menjadi sebuah skenario. Maka dari itu, ada beberapa cara yang bisa diakukan dalam mengembangkan sebuah sinopsis.

a. Membuat Outline

Biasanya penulis skenario akan membuat outline (poin – poin penting dalam cerita) untuk mempermudah dalam membuat struktur dramatik cerita film. Misalnya scene mana yang harus ditampilkan terlebih dahulu atau penjelasan seperti apa yang harus disampaikan secara visual.

b. Paper Edit (Editing Kertas)

Masih kelanjutan dari membuat outline dimana setiap poin outline atau scene dibuat per kertas seukuran kartu nama. Lalu di pojoknya diberikan nomor urut. Kertas-kertas inilah yang nantinya disusun, diacak, dirombak susunannya agar terbentuk struktur dramatik yang dirasa tepat untuk mengangkat emosi penonton.

c. Membuat Treatment

Cara ketiga adalah dengan membuat treatment. Biasanya akan ada pengembangan sinopsis yang dibuat menjadi 25-30 halaman dimana berisikan deskripsi cerita, mood, dan juga karakter. Treatment sangatlah minim (bahkan tidak mencantumkan) dialog atau pengarahan adegan pemain di dalamnya. Namun di beberapa bagian terdapat gambar-gambar untuk mempermudah visualisasi adegan-adegan yang penting atau adegan kunci dalam film.

Itulah 3 cara yang bisa dipilih salah satunya (atau digabungkan) untuk mengembangkan sinopsis menjadi skenario.

Proses penulisan skenario bisa berlangsung selama berbulan-bulan dan penulis bisa menulis ulang skenario beberapa kali untuk mengembangkan dramatisasi, kejelasan tulisan, struktur, karakter, dialog dan keseluruhan gaya cerita.

Terkadang seorang produser akan memasukkan skenario yang sudah dimiliki ke dalam proses script coverage yang akan dibawa ke investor, studio, production house (ph) yang berminat untuk menilai (atau memperbaiki) skenario tersebut.

Produser akan mencatat hasil penilaian secara menyeluruh yang kemudian catatan itu diberikan kepada penulis skenario, script doctor atau penulis skenario lainnya untuk memperbaiki skenario yang sudah ada tersebut.

Sembari skenario diperbaiki, produser akan mencari dukungan dari aktor-aktor atau sutradara (jika misalkan sutradara belum dilibatkan sebelumnya) untuk “mengikat” mereka dalam produksi film tersebut dan mencari dukungan pendanaan untuk produksi film kepada pihak production house, studio, investor atau penggiat film.

Distributor juga sudah bisa dihubungi untuk menilai potensi kesuksesan film ini secara finansial seperti seberapa laku film ini di bioskop.

Tidak semua film meraih keuntungan dari bioskop, jadi banyak film yang mungkin mempertimbangkan pemasukan dari penjualan DVD, penayangan di televisi atau bentuk disribusi lainnya.

CATATAN: Produser-produser Hollywood mengadopsi pendekatan bisnis yang keras dan menganggap penting faktor-faktor seperti genre, target penonton, kesuksesan film-film yang mirip dan dibuat sebelumnya, aktor-aktor dalam film serta sutradara yang potensial untuk menggarap cerita tersebut. Sehingga semua faktor ini bisa memberikan gambaran jumlah calon penontonnya kelak.1

Jika semua tahapan telah dilalui dan mendapat lampu hijau, maka tahapan ini dianggap sudah selesai dan dilanjutkan ke tahap pra produksi.

Salam Sinema

I Wayan Widharma

Filmmaker, Photographer dan Part-time Blogger di Bali. Menjadi fotografer tetap di Jengah Media Production dan Blogger di CSinema.com. Beberapa portofolio saya dapat dilihat di blog atau media sosial saya ini: Profil saya | Facebook | Instagram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *