Sebelum jauh membaca, saya infokan kepada pembaca kalau tulisan di blog ini saya buat berdasarkan pengalaman dan hasil bacaan buku. Jika ada hal yang dirasa kurang pas dan menyimpang, mungkin bisa di infokan lewat kolom komentar di setiap akhir postingan agar nantinya bisa di perbaiki oleh penulis, SuksmaCSinema

Tahapan Produksi Film: Produksi

Tahapan Produksi Film ProduksiTahapan Produksi Film: Produksi – Tahap selanjutnya dalam produksi film adalah produksi. Dalam tahap ini semua konsep yang dipersiapkan pada pra produksi akan dieksekusi. Dilakukan proses pengambilan gambar, suara serta elemen-elemen yang nantinya diperlukan untuk membangun sebuah film.

Beberapa kru yang diperlukan selain kru-kru pada saat pra produksi adalah Property Master, Script Continuity Report atau script supervisor, fotografer still, serta on location editor. Ini hanyalah sebagian besar peran yang biasanya muncul dalam pembuatan sebuah film.

Terkadang, rumah produksi memiliki kebebasan untuk mengkombinasikan atau memilah-milah para kru sesuai denga kebutuhan produksi. Misalnya, jika di produksi film A membutuhkan 100 kru, bisa jadi produksi film B hanya membutuhkan 50 kru karena tidak perlu membangun sebuah set rumah di tengah hutan.

Pada saat produksi, biasanya setiap kru dan juga pemain memiliki waktu tiba (Call Time) yang berbeda-beda di lokasi. (Kru di Indonesia biasanya menyebutnya kolingan (calling-an)).

Kontruksi set, penata set, penata cahaya biasanya memakan waktu yang lebih banyak, sehingga biasanya dilakukan jauh sebelum syuting akan dimulai.

Grip atau tim yang bertanggung jawab dalam mengoperasikan alat-alat pendukung dalam proses pengambilan gambar (seperti crane, dolly, stabilizer), gaffer (chief lighting) beserta tim lighting dan kru desain produksi (artistik) biasanya akan mengerjakan tugasnya lebih awal dari pada departemen kamera dan juga suara. Hal ini untuk mengefisiensikan waktu selama produksi.

Mereka akan mempersiapkan scene berikutnya sementara departemen lain melakukan proses perekaman.

Pada saat kru mempersiapkan alat, para pemain akan di make up, rambutnya di tata serta dipakaikan kostum sesuai denga scene yang akan mereka mainkan.

Sebelum, melakukan perekaman, biasanya pemain melakukan latihan script dan juga blocking (mengatur posisi pemain serta kamera) bersama dengan sutradara. Walaupun ada juga sutradara yang sudah melakukan bloking pemain dan juga kamera jauh-jauh hari sebelum masuk tahap produksi.

Berikut ini adalah prosedur yang biasanya terjadi saat proses pengambilan gambar:

Asisten sutradara akan menyatakan “Set clear”, “stand by” atau “picture is up!” untuk memberitahukan kepada semua orang bahwa pengambilan gambar akan segera dilakukan. Lalu dilanjutkan dengan “quiet, everyone!”, “Please, be quiet” sebagai tanda agar seluruh kru tidak ribut karena akan dilakukan perekaman.

Setelah semua siap dan diam, astrada akan menyerukan “sound” atau “roll sound” (untuk adegan yang melibatkan perekaman suara sealigus sebagai tanda agar sound recordist menekan tombol rekam pada audio recordernya sambil mengatakan “sound speed”, “sound roll” atau “roll”)

Clapper (orang yang memegang clap di depan kamera) akan menyebutkan nomor scene, nomor shot dan juga nomor take. Barulah dilanjutkan dengan astrada mengatakan “kamera” dan dijawab oleh kameraman atau operator kamera “speed” atau “mark it!” setelah dia menekan tombol record pada kamera. Setelah itu barulah clapper segera menutup clap dan mencari posisi agar tidak ikut terekam dalam frame.

Jika adegan tersebut melibatkan figuran/extras atau akting pada background, maka astrada akan memberikan kode “background action!” lalu barulah sutradara (atau terkadang juga astrada) memerintahkan “action” kepada pemeran utama.

Sutradara akan mengatakan “Cut!” sebagai tanda bahwa take tersebut telah selesai dan kamera serta audio akan berhenti direkam.

Script continuity report atau script supervisor akan mencatat segala hal yang berhubungan dengan kesinambungan adegan. Sementara departemen suara dan kamera akan membuat catatan teknis tentang take tersebut pada lembaran masing-masing.

Jika sutradara merasa adegan masih kurang, maka akan dilakukan proses perekaman ulang dengan setup yang sama. Setelah dirasa pas dengan visi sutradara, maka akan berpindah pada setup berikutnya hingga take pada scene tersebut telah dilakukan semua.

Setelah selesai pada scene tersebut dan akan lanjut ke scene berikutnya, maka astrada akan mengatakan “moving on” atau “next scene” sebagai tanda kepada kru untuk merapikan scene yang sudah selesai dan siap-siap berpindah ke scene selanjutnya.

Bisa juga mengatakan “wrap” jika semua keperluan perekaman gambar dan juga suara untuk film telah terpenuhi dan proses produksi dinyatakan selesai. Hal ini berdasarkan dengan catatan dari script continuity report bahwa seluruh shot telah diambil.

Jika syuting pada hari ini telah selesai, maka sutradara akan mengesahkan jadwal syuting hari berikutnya (jika seluruh shot belum terpenuhi) dan laporan progres harian (daily progress report) akan dikirim ke rumah produksi.

Dalam laporan tersebut juga terlampir script continuity report, laporan departemen suara dan juga laporan departemen kamera.

Sedangkan seluruh kru akan mendapatkan call sheet yang akan memberitahukan mereka kapan dan dimana harus berada pada hari yang sudah ditentukan di call sheet.

Terkadang, setelah selesai syuting di hari yang bersangkutan biasanya sutradara, produser, kepala setiap departemen bahkan kadang-kadang pemain akan berkumpul bersama dan menyaksikan footage (bahan rekam atau disebut juga dailies) pada hari itu dan mengulas hasil kerja mereka.

Berbeda dengan jam kerja kantoran yang hanya 8 jam kerja. Untuk waktu syuting satu harinya bisa berkisar antara 14 sampai 18 jam. Hal ini berbarengan terus dalam satu lokasi. Bentuk kerjasama ini biasanya akan membangun semanat dan juga solidaritas setiap orang yang terlibat di dalamnya. Maka ketika syuting selesai, biasanya rumah produksi akan mengadakan wrap party untuk berterima kasih pada kru dan juga pemain atas kerja kerasa mereka.

Alur kerja diatas akan sangat berbeda dengan produksi film live action (bukan berbasis CGI) karena jadwal kerja dari pemain utama dan juga kru dituntut hadir di waktu dan tempat yang sama.

Berbeda juga dengan film animasi dimana setiap pengisi suara bisa melakukan perekaman suara pada studio rekam pada waktu yang berbeda. Bahkan pembuat gerak rambut dan pembuat tekstur kulit pada satu karakter bisa tidak bertemu sama sekali pada saat produksi.

Salam Sinema

I Wayan Widharma

Filmmaker, Photographer dan Part-time Blogger di Bali. Menjadi fotografer tetap di Jengah Media Production dan Blogger di CSinema.com. Beberapa portofolio saya dapat dilihat di blog atau media sosial saya ini: Profil saya | Facebook | Instagram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *